Laporan bacaan kultur sekolah
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Perkenalkan nama saya Nurlatifa (11901069) dari kelas PAI 4F
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan serta berbagi hasil temuan yang telah saya baca mengenai “Kultur Sekolah” untuk memenuhi tugas Magang 1 yang diampu oleh Farninda Aditya, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah ini.
Nah sebelumnya kita harus mengetahui dulu apa itu definisi kultur sekolah menurut pada ahli.
(Djemari, 2004) mengemukakan bahwa Stolp dan Smith (1994) mendeskripsikan kultur sekolah sebagai pola makna yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi, dan mitios dalam derajat yang bervariasi yang ditunjukkan oleh warga sekolah.
Zamroni(2009) mengemukakan bahwa kultur sekolah adalah norma-norma, nilai-nilai, keyakinan, sikap, harapan-harapan, dan tradisi yang ada di sekolah dan diwariskan antar generasi, dipegang bersama baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa dan mempengaruhi pola pikir (mindset), sikap, dan tindakan seluruh warga sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
(Deal & Peterson, 2011) Budaya sekolah merupakan himpunan normanorma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja.
Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa.
Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kultul sekolah adalah budaya atau kebiasaan warga sekolah dalam menjalan nilai-nilai dan norma yang harus ditaati di lingkungan sekolah tersebut.
Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.
Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Timbulnya sub kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya.
Dalam membangun kultur sekolah, kita harus menetapkan visi, misi, tujuan dan strategi sekolah. Visi adalah cita-cita bersama warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang yang mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan untuk mencapainya. Misi sekolah adalah segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Tujuan sekolah menggambarkan tingkat kualitas yang ingin dicapai dalam jangka waktu menengah. Strategi adalah cara-cara yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Visi, misi, tujuan dan strategi sekolah perlu dijadikan acuan oleh segenap warga sekolah agar menjadi daya dorong untuk melakukan setiap kegiatan dalam rangka mencapai tujuan sekolah.
Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada segenap warganya. Para guru yang professional melakukan tugasnya untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan bahkan mengarahkan para siswa agar kelak menjadi manusia yang cendikia, mandiri dan berbudi pekerti luhur. Diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang akan ikut serta membangun dan dan memimpin bangsa. Sekolah sebuah organisasi dengan demikian perlu membangun kultur sekolah yang baik, sehat, dan positif.
Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat dan positif perlu didasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala apa yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. Keyakinan dan nilai-nilai agama akan memberikan arahan untuk bekerja dan melakukan perbuatan yang diridhoi-Nya. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada warga sekolah agar segala perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada manusia semata tapi mendapatkan nilai lebih di mata Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah dituntut untuk terus menerus melakukan perbaikan, pengembangan kualitasnya melalui peningkatan kultur sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu:
1. Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).
2. Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.
3. Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
4. Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.
Dalam menerapkan kultur positif di sekolah yang dapat dilakukan yaitu:
1. Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi tinggi
2. Memegang teguh bahwa prestasi dan proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan
3. Menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral
4. Membangun jembatan antara visi, misi, dan aksi
5. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah
6. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team workyang tinggi
7. Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)
8. Menghargai prestasi siswa
9. Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi
10. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, sejuk, dan aman
Kultur sekolah bukan hanya mempengaruhi kegiatan warga sekolah, namun demikian kultur sekolah juga akan mempengaruhi motivasi dan semangat dari warga sekolah itu sendiri. Selain itu kultur sekolah ini juga mencakup ke berbagai elemen-elemen yang terdapat di dalam suatu institusi atau lembaga pendidikan. Kultur Sekolah memberikan panduan menilai apa yang penting, apa yang baik, apa yang benar, dan bagaimana berbuat untuk mencapainya.
Pada dasarnya pengembangan sistem kultur sekolah adalah membangun sekolah dengan mendasari pada kekuatan utama yaitu sekolah itu sendiri. Perbaikan kultur sekolah dapat dilakukan dengan mengembangkan aspek-aspek kultur sekolah yang terdiri dari asumsi yang kemudian melahirkan sebuah nilai dan keyakinan yang selanjutnya diwujudkan dalam sebuah artifak sehingga sekolah sekolah mampu mengembangkan kultur yang mereka miliki kea rah yang lebih baik. Melalui fungsinya kultur telah menjelaskan bagaimana pentingnya kultur sekolah berperan dalam perbaikan mutu, dan kemudian didukung olehh langkah-langkah yang dapat mengembangkan mutu sekolah itu sendiri.
Usaha yang dilakukan oleh sekolah dalam membangun kultur sekolah berlangsung secara kontinyu. Hal itu dilakukan dengan aspek struktural dan juga aspek kultural. Pada aspek structural, sekolah dengan kebijakanya mengeluarkan aturan- aturan yang berupa tata tertib sekolah supaya dapat dipahami oleh warga sekolah. Kemudian selaain itu sekolah juga menerapkan pembudayaan atau aspek kultural pada sekolah.
Inilah pemaparan hasil bacaan saya mengenaikultur sekolah. Jika ada kata yang salah dalam penulisan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan dari teman-teman dan ibu.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber bacaan : Ariefa Efianingrum. 2013. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran Sosiologi. Volume 2 No.1 , Mei 2013.
Komentar
Posting Komentar